Senin, 6 September 2010

Fikih Kemenangan dalam HIJRAH

Senin, 21 Desember 2009

Oleh : Syukri Wahid,drg (ketua DPD PKS Balikpapan)

Hari itu para petinggi Quraisy menggelar rapat tinggi di tempat pertemuan mereka
yang bernama “daarun nadwah”, suatu tempat  dimana mereka sering melakukan
musyawarah untuk mengambil keputusan-keputusan resmi berkenaan dengan semua
permasalahan kota makkah. Pada tahun itu, usia dakwah Nabi telah memasuki tahun ke
13 dari awal kenabian. Arus da’wah nabi yang berpijak kepada Tauhid, dari tahun
ketahun memperlihatkan perkembangan yang signifikan, semakin banyak putra putri
terbaik Makkah yang masuk kedalam pangkuan Islam, sehingga  pada waktu itu semua
klan suku Quraisy sudah ada pemeluk agama Islamnya.
            Bagi Quraisy, hal tersebut adalah ancaman besar bagi eksistensi
peradaban mereka. Usaha mereka untuk membendung da’wah beliau selama ini tidak
memperlihatkan hasil yang sesuai dengan harapan mereka, berbagai cara sudah
ditempuh, mulai dengan teror psikis, fisik serta cara-cara lembut seperti “merayu”
beliau dengan harta, tahta dan wanita tidak membuat beliau bergeser dari da’wah.
Karena itu puncaknya mereka menggelar rapat tinggi untuk mencari “senjata ampuh”
untuk menghentikan dakwah beliau.
 
Konpirasi Pembunuhan
            Beberapa usulan berkembang dalam rapat tersebut, ada usulan untuk
”mengusir” Muhammad ke luar kota madinah, namun dibantah oleh beberapa petinggi
mereka, bahwa jika kita usir maka secara politis kita kalah, karena mungkin saja
muhammad akan membangun basis dakwahnya dikota lain dan jika sudah besar dia akan
menyerang kita, dan juga secara citra kita (orang-orang makkah) akan diangggap oleh
publik sebagai kota yang sektarian dan tertutup, hanya karena berbeda paham dengan
mayoritas masyarakat langsung diusir dari Makkah, bukankah makkah tiap tahunnya
 terbuka untuk seluruh bangsa Arab untuk melaksanakan ibadah haji, semua bisa datang
kesana tanpa ada penindasan.
            Usulan kedua menginginkan Muhammad dipenjara saja, agar dia tidak bisa
melakukan da’wahnya kemasyarakat. Usulan inipun ditolak karena dengan dipenjara akan
mengundang simpati orang lain, sehingga akan menambah banyak orang yang mendukung
dakwahnya, apalagi Muhammad sudah terlanjur dikenal pribadi yang jujur oleh publik.
Dalam buku-buku tentang siroh nabawiyah, diriwayatkan  dalam pertemuan tersebut
tiba-tiba hadir iblis yang menjelma dalam bentuk manusia tua renta, dia mengusulkan
agar Muhammad dibunuh saja, alasannya sederhana untuk bisa menghentikan risalah
Islam, bunuhlah pembawa risalahnya. Pendapat ini diaminkan oleh Abu Jahal, sehingga
dia mengusulkan agar tiap kabilah mengutus seorang jawaranya dan membunuh Muhammad
secara bersama-sama, agar darah Muhammad tercecer disemua kabilah, dengan demikian
bani Hasyim (suku Nabi Muhammad SAW) tidak akan sanggup melawan kita semua.
 
Makar musuh vs Makar Allah
            Makar keji kafir quraisy tersebut  diabadikan oleh Allah SWT dalam surat
al anfal ayat 30, sekaligus Allah SWT memberitahukan rencana makar quraisy ini
kepada Nabi, dimana Allah SWT berfirman,:”dan ingatlah ketika orang-orang kafir
membuat makar keji/tipu daya terhadapmu untuk meangkap & memenjarakanmu atau
membunuhmu atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah membatalkan tipu daya
itu. Dan Allah adalah sebaik-baik pembuat tipu daya”. Jika para musuh Allah SWT
memiliki planing strategis membunuh Nabi sebagai pemimpin risalah Islam, maka Allah
SWT juga memiliki perencanaan yang lebih jitu untuk menyelamatkan Nabi-Nya dari
rencana pembunuhan tersebut. Semua prosedural penyelamatan Nabi SAW ini kita kenal
dengan peristiwa Hijrah.
            Bukti pertama kekalahan makar para kafir quraisy adalah hilangnya secara
tiba-tiba kaum muslimin dari interaksi pergaulan sosial kota Makkah, ternyata
sebelum para petinggi quraisy rapat, Nabi SAW sudah terlebih dahulu mengistruksikan
semua para sahabat untuk segera meninggalkan kota Makkah dan berhijrah menuju
Madinah, kecuali beberapa sahabat saja yang ditunjuk beliau untuk tetap tinggal di
Makkah untuk tugas-tugas tertentu, sehingga para petinggi quraisy sudah menduga
terjadi kebocoran pada rencana mereka.
            Kemudian seluruh jawara Quraisy berkumpul mengepung rumah Rasulullah
SAW, sehingga pada waktu yang disepakati mereka langsung membunuh beliau, apa yang
terjadi para pembaca sekalian, ternyata Rasulullah SAW menyuruh Ali bin Abu Thalib
untuk menggantikan beliau untuk tidur diatas ranjangnya. Kemudian atas ”makar” atau
tipu daya Allah SWT beliau keluar dari rumah melewati para jawara Quraisy tanpa
terlihat, beliau pun sempat menabur pasir diatas kepala seorang musuh pada saat itu.
Hal tersebut tidak disadari oleh mereka, sehingga salah satu dari mereka
berkata,”sungguh Muhammad telah meninggalkan kalian, dan dia menaburi pasir diatas
kepala kalian”, terkaget mereka, tak ayal mereka langsung masuk ke kamar Rasulullah
SAW dan sungguh terkejutnya mereka karena yang tidur diatas ranjang adalah Ali bin
Abu Thalib.
Fikih Tamkin (Kemenangan) dalam Perjalanan Hijrah
            Proses Hijrahnya Nabi SAW  merupakan ”seni berperang” tersendiri,disana
banyak terdapat siyasah syar’iyah (politik yang syar’i) menurut DR.Said Ramadhan
dalam buku fiqhussirahnya .Ketika orang kafir Quraisy  memastikan Muhammad telah
lolos dari upaya pembunuhan yang mereka lakukan, maka mereka menginstruksikan agar
status makkah menjadi siaga satu, semua sipil dan militer makkah dikerahkan untuk
menangkap hidup-hidup Muhammad bahkan mereka menggoda semua orang dengan cara
membuat sayembara berhadiah ,jika ada yang sanggup menangkap Muhammad maka akan
diberi hadiah 1000 ekor unta.
Sekali lagi  Allah SWT adalah sebaik-baik pembuat tipu daya, namun tipu daya ini
diturunkan Allah melalalui tahap-tahap prosedural manusiawi artinya bagaimana Allah
menyelamatkan Nabinya itu tidaklah terlepas dari ikhtiar maksimal dari Nabi untuk
menyusun rencana penyelamatan dirinya sendiri.
 
a.      Menjaga kerahasiaan Perjalanan
Bukti nabi mengelola kemenangan ditempuh dengan ikhtiar manusiawi adalah menjaga
kerahasian perjalanan, bahkan terhadap keluarga dekat beliau dan Abu bakarpun tidak
diberitahu. Hal ini dalam rangka memastikan perjalanan beliau aman dan tidak
terdeteksi oleh pihak musuh, dan hanya memberitahu kepada orang-orang tertentu saja,
karena seringkali kegagalan sebuah operasi politik karena sudah ”bocor” terlebih
dahulu. 
 
b.   Menghilangkan jejak perjalanan
            Pasukan musuh menduga kuat bahwa Muhammad lari menuju madinah, maka
mereka mengejar kearah utara kota makkah, namun diluar dugaan Nabi dan Abu bakar
justru berjalan ke arah selatan, ini bukti Nabi menempuh ”siyasah” atau siasat
perang dengan cara mengecoh musuh. Beliau bersembunyi di gua tsuur selama 3 hari.
Bisa kita bayangkan kepanikan orang quraisy, bagaimana bisa muhammad dalam hitungan
jam tidak dapat terdeteksi keberadaannya.
 
c.orang yang tepat untuk pekerjaan yang tepat pula
            Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan kepada sahabat,”ketahuilah
sesungguhnya perang itu adalah tipu daya”, dan dalam proses hijrah itu nabi
benar-benar mempraktekkannya, yaitu memakai ”orang-orangnya” untuk sebuah tugas
khusus. Tiga hari digua tsuur tentu Nabi SAW butuh makanan dan minuman, bagaimana
cara Nabi SAW mendapatkan suplai logistik tersebut? Adalah dengan cara melibatkan
dua orang, pertama adalah Asma’ binti Abu Bakar yang tiap siang membawa makanan,
dimana dalam hamil tua beliau berjalan sejauh 5 mil untuk membawa makanan, orang
kedua adalah Amir bin fuhairah, seorang mantan budak yang sengaja mengembala kambing
yang gemuk dekat dari gua tsuur agar air susunya bisa diminum oleh Rasulullah SAW
dan Abu Bakar, sekaligus juga kambing-kambing itu akan menghapus jejak kaki dari
Asma’ binti abu bakar sepanjang perjalanan.
            Itu dari sisi logistik, karena ini adalah perang politik, maka akses
data informasi sangat berharga disini, namun bagaimanakah cara agar Nabi bisa
mengetahui seluruh gerak-gerik musuhnya walau beliau berada didalam gua tsuur
sekalipun . Orang yang tepat untuk merekam semua aktivitas Quraisy adalah Abdullah
bin Abu bakar, setiap sore menjelang malam, Abdullah berangkat menuju gua tsuur
untuk melaporkan semua informasi yang didapatkannya kepada Nabi, ini yang dalam
dunia intelejen disebut dengan spionase atau mata-mata. Mungkin kita bisa bertanya
kenapa tidak Asma’ saja yang membawa informasi ini sekaligus pada saat membawa
rantangan makan? Inilah nilai siyasah (politik) diantaranya yang beliau lakukan.
            Masih ada satu lagi, yaitu akses jalan ke Madinah, Nabi SAW sadar persis
bahwa semua akses jalan ke Madinah pasti akan dijaga ketat oleh pihak musuh, karena
itu Nabi SAW memerlukan orang yang bisa menuntun jalan ke Madinah dengan menggunakan
jalur jalan yang tidak lazim, dan orang yang dipakai Nabi SAW adalah Abdullah bin
Uraiqith, seorang yang masih beragama jahiliyah, namun disini babnya bukan bab
akidah, bahwa dalam perang sarana yang bisa memenangkan da’wah harus dimaksimalkan,
walau itu harus memanfaatkan ”seorang” dari kalangan mana saja, yang jelasnya Nabi
memberi upah setimpal kepadanya, dan Abdullah berkewajiban menuntun nabi sampai ke
madinah, jadi ini murni bisnis jasa juga. Ulama sejarah  lebih sering menyebutnya
dengan istilah ”intifa’” (seni memanfaatkan musuh).
 
 
 
d.Usaha dulu baru tawakkal
            Memang tipis antara ruang ikhtiar atau usaha dengan tawakkal, usaha
adalah wilayah manusia namun tawakkal adalah wilayah Allah SWT. Proses hijrah ini
memadukan keduanya dalam proposianal yang sebenarnya. Perencanaan Nabi yang begitu
matang, mulai dari waktunya, orang-orang yang dilibatkan, sarana yang dipakai,
antisipasi resiko perjalanan, pendek kata semua itu lahir dari wilayah ikhtiar
kemanusiaan Nabi.Yang jelas Nabi mengeluarkan semua potensi bashariyah (kemanusiaan)
untuk merencanakan kemenangan tersebut, intinya disitu.
            Cobalah perhatikan, ketika beliau dan Abu Bakar bersembunyi digua tsuur,
dan sehebat-hebatnya beliau merencanakan semua dengan matang, ketika hari ketiga
persembunyian, tiba-tiba ada sekelompok pasukan berkuda musuh yang sampai juga
memantau ke gua tsuur, ketika mereka telah berada dimulut gua untuk melihat kedalam,
Abu Bakar berkata kepada Nabi Muhammad SAW,”Ya, Rasulullah sekiranya mereka melihat
dan menunduk kebawah, niscaya kita akan ketahuan”?, Nabi menjawab, ”la,tahzaan,
innallaha ma’ana ”, janganlah engkau takut karena Allah bersama kita. Inilah yang
kita sebut tawakkal, dimana ketika kita telah mengeluarkan seluruh ikhtiar kita dan
tidak ada lagi akal diatas itu, barulah jurus yang paling ampuh adalah tawakkal, dan
disitulah nanti Allah menurunkan pertolongan-Nya, sehingga tawakkal adalah cara kita
”menggoda” Allah agar mau menolong kita.
            Para pakar manajemen modern selalu mengatakan bahwa, kita memang percaya
dengan ”perencanaan”, namun kita lebih yakin dengan ”ketidakpastian” . Semoga
pelajaran hijrah dalam perpektif politik akan semakin mengantarkan kita kepada
sebuah kesimpulan utama bahwa, memang kemenangan itu harus dimimpikan, kita punya
banyak mimipi-mimpi kemenangan ditahun ini, namun yang pasti kita harus kita lakukan
adalah mendatangkan semua faktor-faktor kemenangan tersebut dalam ikhtiar kita,
nanti biar Allah yang menentukan bahwa kita memang layak untuk ditolong, memang
layak untuk diberi kemenangan. SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1431 H