Orang-Orang Besar Itu…

Aneh, heran, dan menakjubkan, setidaknya
Itulah dirasakan oleh seorang utusan Raja Persia
Ketika dia memasuki kota Madinah dan ingin
Bertemu dengan seorang khalifah yang namanya
Sudah “mendunia” kala itu, Umar bin Khattab.
Ketika dia tiba di pintu gerbang kota Madinah
Tiba-tiba saja semua bangunan di dalam pikirannya
Tentang kaum muslimin runtuh berantakan.
Sulit dia terima kenyataan itu, bahwa kaum muslimin
yang telah mengalahkan “negaranya” itu
dan juga telah menaklukkan negara sebesar Romawi,
membuka Mesir sebagai pintu gerbang benua Afrika dan sebagainya itu,
Pasti berasal dari “kota” yang bagus infrastrukturnya.
Pasti memiliki istana yang megah
dan mahkota sang rajanya terbuat dari emas berlapis-lapis
dan terbungkus oleh pakaian indah sang raja.
Pasti bagus bangunan-bangunan rumahnya.
Pasti canggih sisitem pengamanan berlapisnya
Pasti amat sulit dan birokratif menemui “sang Rajanya”
Dan sudah pasti para pasukannya memiliki “barak-barak” militer yang kuat.
Itu…semua menjadi sirna
ya…semuanya sirna
Semua kesan itu menjadi paradoks dalam benak pikirannya.
Sedikit berguman dia di dalam hatinya…seraya bertanya.
Apa betul….ini adalah Madinah yang bisa mengalahkan Roma itu…?
Apa iya….ini adalah Madinah yang menaklukkan Persia itu..?
Di mana wajah-wajah prajurit yang sangat sangar kala itu..?
Ke mana para pasukan yang pernah mengatakan kepada kami
Ketika perang Qadhisiyyah itu terjadi :
“wahai Rustuum, kami datang kepada kalian
dengan para tentara, yang sangat mencintai kematian
sebagaimana kalian mencintai kehidupan”
Semuanya itu menjadi pertanyaan dalam dirinya.
Ketika dengan pakaian kemewahan sang utusan itu
Dia ingin menemui sang khalifah Umar bin Khattab
Tidak ada protokoler yang dilaluinya
Tidak ada sambutan yang melambungkan hati
Tidak ada tepuk tangan yang menyambutnya.
Seraya dia bertanya,
”bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan raja kalian?
Di antara sahabat ada yang menjawabnya,
“jika engkau ingin bertemu khalifah Umar
dia ada di bawah pohon kurma disamping masjid sana !”.
Sang utusan itu, terdiam, hening, dan seribu bahasa
Kini dia sedang berhadapan dengan seseorang
Yang sedang tertidur pulas dalam dan damai
Tidak ada tanda-tanda masalah besar dalam raut wajah tidurnya,
berbantalkan tangan kanan yang dilipat
Di atas permadani padang pasir, ditiup angin sepoi-sepoi
Di bawah rindangnya pelepah kurma.
Inikah...orang itu yang menaklukkan Persia dan Romawi itu?
Bagaimana bisa orang seperti ini tidur nyaman tanpa ada yang mengawalnya.
Kini dia sadar, bahwa sedang berhadapan dengan
Sebuah peradaban besar yang berisi orang-orang besar
Dia sedang melihat pemandangan di Madinah
Bahwa mereka adalah orang-orang pilihan
Yaitu, mereka adalah orang-orang
yang menyembuniyikan keberaniannya di balik kelemahlembutannya
yang menyembunyikan kecerdasannya di balik ketawadhuannya
yang menyembunyikan keperkasaannya di balik kerendahan dirinya
yang menyembunyikan izzahnya di balik kebersahajaannya.
Balikpapan, Gang Depag
"paradox kejiwaan”
*penulis adalah Ketua DPD PKS Balikpapan, drg. Syukri Wahid
